Posts

Showing posts with the label puisi

Sepi, Jemput Aku Pulang

Image
Sepi, Jemput Aku Pulang dan sesungguhnya cinta, Tak ada yang lebih sepi dari kesepian itu sendiri Saat tak banyak orang yang mendengar suara rintihan kita Pada saat yang sama bumi enggan bersuara, angin enggan berdesir Sedang ragamu telah menjadi fosil Dan kenanganmu telah terurai menjadi setumpuk abu Tatkala aku termenung, Menyadari bahwa esensi kesetiaan hanyalah kesengajaan yang dibuat dengan keterpaksaan Bahwa janji tak selamanya harus ditetapi Karena hidup tak selamanya harus berjalan sesuai rencana Kau dimana? Jauh Lenguhku tak sampai pada telingamu Jangkaku tak sampai pada titikmu Sedang suaraku hanya samar terdengar dari atas bukit masa lalu yang lapuk Rusak tak terurus Ingin sekali lagi kumenggenggam tanganku Agar bukan hanya matamu yang kubayang Agar bukan hanya suaramu yang terngiang Agar kefanaan menisbikan dirinya  sendiri dan dapat kulihat nyata wujudmu gagah meenatap matahari Jemput aku pulang Kembalikan aku pada keniscayaanku Sebel...

Dari -aku-

Image
Aku menerima matamu sebagai kejutan dari Tuhan Jika tak sempat kunikmati mata itu berulang kali, Biar hanya bayangannya yang menjadi prasasti Bahwa antara aku dan kamu pernah sengaja dipertemukan Aku menerima matamu sebagai hadiah dari Tuhan Atas ganti mata orang lain yang tiap kali mengingatnya membuatku luka Jika hadiah itu hanya sekedar dititipkan Setidaknya biar matamu itu menjadi penghapus atas bayangan mata orang lain Dan menjadi isyarat Bahwa masih ada bahagia yang harus kunikmati di dunia ini Berawal dari sebuah candaan dan ketidaksengajaan aku mengetahui dirimu sejak lama Secara diam-diam aku hanya bisa melihat foto-foto yang itu-itu saja

Panglima

Image
7 TANTANGAN MENULIS - DAY-7   Aku memanggilmu panglima Yang meluluhkan hati tanpa sebilah pedang Melumpuhkan perasaan hanya dengan senyuman Tak pernah ku tahu bagaimana akhirnya bisa jatuh di pelukanmu Sejak perkenalan kita di sebuah dunia yang tak ku tahu sebutannya apa Aku tahu hatiku akan luluh, hanya menunggu waktu Namun hingga musim hujan berganti salju Tak jua ku dapati dirimu di hadapanku Hingga suatu ketika aku bertekad menemuimu Hanya untuk menyampaikan kata rindu Tapi sunggu lidahku keluh Tak dapat lagi mengucap sepatah kata Hanya bahagia yang mendekapku tatkala dirimu di hadapanku Tapi, rupanya itu hanya mimpi panglima, Kita tidak pernah bertemu Raungan rinduku tak pernah menembus hatimu Jeritan tangis dalam penantianku tak pernah menyadarkanmu Aku memanggilmu panglima Yang tak memiliki amunisi untuk memperjuangkan cintanya Karena hatinya telah dikalahkan dunia **** Aku ingin mendapatkan buku terbarunya M. ...

Berpetak Umpat Mencintaimu

Image
Aku tergelak Saat suaramu menyembul ke permukaan Panahan matamu menembus titik kuning hatiku Tak ku goyangkan badan ini Tapi kaki ini terus bergetar Pertahananku runtuh Sayatan pisau tajam sekalipun Hanya bisa melukai kulit ariku Tak sampai pada akarnya yang menancap Tak akan berbekas hingga mulut tak lagi berucap Aku dan hatiku Berpetak umpat mencintaimu Kucing-kucingan setengah mati menatapmu Mempertarungkan tatapan Yang tak urung keseriusan Tidakkah kau lihat Ada lukisan cinta di mata ini Ada cairan rindu yang kujaga untuk tak sampai jatuh Dan ada warna kelabu di pupil ini Saat kau buatkan mendung untukku Hentikan sudah cinta ini Jika kau tak mau Bunuh saja rindu ini Jika kau tak tahan lagi Butakan saja mataku Jika melihatmu hanya akan menjadi benalu hidupku 1 November 2013

Bagaimana Bisa Segila Ini Aku Mencintaimu?

Syair apa yang harus ku tulis Sedang mencintaimu membuatku lupa cara menulis Aku terlampau gila memandangimu Tergila-gila akan ketampananmu yang sederhana Pada kepandaianmu yang nampak biasa Pada kedewasaanmu yang mengalahkan usia Jelaskan bagaimana agar aku bisa lupa Sedang dalam doaku namamu sangat sering ku sebut Dalam mimpi, dirimu nyaris tak pernah udzur Jelaskan! Bagaimana bisa segila ini aku mencintaimu? Memoriku, mataku, telingaku Semua sasak akan bayangmu, senyummu, suaramu Senyum manismu yang sangat memikat Perkataanmu yang sarat makna Nada bicaramu yang semerdu alunan rindu Katakan! Bagaimana bisa segila ini aku mencintaimu? Coba terangkan padaku ketidakjelasan akan perasaanku Terima atau tidaknya dirimu aku tak peduli Aku akan terus mencintaimu Sampai kapanpun Aku yakin Dirimu tak akan bisa menjawab Bagaimana bisa segila ini aku mencintaimu?

Aku, Hujan, dan Dia

Image
Di depanku turun jutaan air yang jernih Membuat dingin di tubuhku Di sampingku, berjajar siswa yang sedang sibuk mengurusi kuliahnya Agak jauh di sana, seorang lelaki berkacamata berdiskusi dengan salah seorang dari mereka Itu Kamu Lelaki yang aku doakan siang malam Yang datang dalam mimpiku akhir-akhir ini Seseorang yang aku rindukan dalam diam Aku batin dalam sepi Aku pandang dalam bayang Lelaki yang istimewa di akhir masa sekolahku Aku dan dia menikmati hujan yang sama. Menikmati bunyi sahut-sahutan air yang jatuh, menyejukkan Meski bising, aku masih bisa mendengar suaranya Tawanya, yang semerdu rerintik hujan siang ini Masih bisa membau tubuhnya, yang seharum bau tanah basah terkena tetasan hujan Masih bisa mlirik senyumnya, saat dia tengah asyik mengabaikanku Aku menikmati hujan yang sama dengannya Bersama desir kebahagiaan yang tak terkirakan Bersama debar jantung yang beritme lebih cepat dari pada saat aku berlari menemuinya. Bers...

Rebahan Mukena Merah

Berujung sajadah diatas gelisah Berbalut noda berakhir neraka Berdawai dusta Terhina nista Ku katupkan pelupuk mata hati Agar tiada lagi syahwat menjerat Diatas kesucian yang tersirat Kucoba menghindar namun takut memudar Kalah akan kuatnya hasrat syetan Untuk mengelabuhi diri ini dalam wujudmu Senjaku menyapa dengan kesalahan itu Kesalahan terbesar akan kebohongan Yang membuatku terlihat tak berdaya Tak dapat terpungkiri jikalau ku ingin melepas semua ini Jerat hati yang menyakiti Sendi-sendi keimanan semakin rapuh Hanya karena ku menyayangimu Dan tak bisa untuk mengendalikan hasratku untuk tak melihatmu Dibalik rebahan mukena ini Terlihat segores tinta warna merah di atas kertas itu Berlumur penuh dosa Hanya karena untaian kata yang menggoyah jiwa Dan tak dapat mengelak akan nafsu Yang dibisikkan oleh syetan Pantaskah ku bermukena jika ku melihatmu dengan tatapan dosa? Pantaskah ku duduk di atas sajadah  jika ku membaca untaian h...

Sumpah Pandu

Duhai negeri tak ber-Einsten! Sumpah pandu padamu Menjadi intlek pembangun tanah pertiwi Pengolah tambang negeri yang tanpa mantri Pelesat pendidikan ciptakan kejayaan Indonesiaku.. Paceklik pendidikan muda-mudimu Hanya boleh menjadi mimpi buruk masa silam Kan ku bangunkan kau Menggenggam bersama globalisasi dunia Melipat rapi kebodohan yang tak dibutuhkan Sumpah pandu, Hai Negeri pancasila! Menghapus identitas negara berkembang Robohkan monopoli pembesar negeri Lenyapkan korupsi, usung prestasi Biar garuda yang bicara gagah “Kita telah menjadi negara maju” Dengan insan yang tak lagi bermain denga kebodohan Dan pejabat yang tak lagi menggeliat malas di kursi parlemennya Malang, 29 April 2014

Berkias Tanpa Majas

Perkakas kuas berkias Ku utarakan rasa didalam dada Lewat satu demi satu lengkungan lengan Ku goreskan tinta tak berupa Di atas kertas tepian peringas Inilah caraku Caraku menguakkan Segala ungkapan batin dalam nestapa derita Dia tahu segalanya Segala tangis tawa ditengah kandasnya rasa dalam jiwa Ku katupkan pelupuk mata ini Ku buka pintu hati yang masih tertutup Ku genggam benda kecil berujung benang bulu Sekelebat bayang melintasi ruang memoriku Setitik aroma jiwa menggugah mata batinku Menuntun jemari melengkungi kertas putih tak bernoda Hingga ku ciptakan satu keabadian rasa Membuat birahi membaca hati Mengikis rasa dalam pandangan yang nyata Begitu bersahaja ku tuntun tinta pelangiku Begitu ikhlas ku lepas tangan untuk menghias Bersama lembutnya gerak sapuan kuas Yang menyapu setiap celah putihnya kertas Inilah aku Berkias tanpa majas Tak harus bermajas Untuk bisa berparas Berparas cantik indah menawan Memberi pelangi b...