Posts

Showing posts with the label ala santri

Aku Naina, bukan Robiah

Image
“Jangan-jangan kalau kamu dapat istri hafidzah dia ngaji terus, nggak gelem tandang gawe .” Perkataan itu menampar wajah Naina. “Ibumu bilang begitu?” lelaki di depannya mengangguk.

Dosa Tanpa Jeda #1

Image
Pixabay “kalau abah tidak mengizinkan saya jadi pelacur, baik! Arini akan pergi dari rumah!” “Arini!!!” bentak abah. “Silahkan keluar, dan jangan cari abah hingga di surga!!!” sambil menunjuk pintu Arini berlari keluar, ia berhenti sejenak di depan pintu, menoleh kembali wajah abah yang memerah memendam amarah, dan umi yang menangis tersed-sedu di samping suaminya. Arini melihat lantai marmer itu sekali lagi, menamatkan pandangannya pada dinding-dinding rumahnya yang hangat, menikmati aroma masakan umi, menatap kenangan masa kecilnya yang berputar di rumah ini. Selangkah lagi dia akan keluar dari rumahnya sendiri, dan tak akan mungkin pernah kembali. Sedang di luar pintu, ratusan santrinya membungkam mulut mereka, ada yang sebagian menangis, acuh, ada yang berbisik menghina. Mereka semua tabungan surganya abah, kepergiannya tak akan menimbulkan deficit ganjaran abah sedikitpun. Tekadnya bulat, tanpa menghadap ke belakang, sambil menutup mata, ia tarik jilbabnya hingga te...

Nurul Furqon Dalam Bingkai Mataku

Image
Banyak kejadian dramatsi akhir-akhir ini membuatku ingin menuliskan banyak hal. Well, tapi bukan itu yang hendak aku tulis di sini. Sedikit aku akan bercerita tentang rumah kedua ku yang tersayang. Nurul furqon.

Ramadlan ala Pondok'an VS Rumahan

Image
Ramadlan tahun ini (1438) H terasa berbeda bagiku, of course. Ini pertama kalinya menghabiskan ramadlan di tanah rantau. Menyandang status santri dan buka sahur bersama setiap hari. Euforia menyambut ramadlan sangat terasa ketika berada di pondok. Segala sesuatu kita persiapkan jauh-jauh hari. Mulai dari membiasakan diri bangun shalat malam, membersihkan pondok secara menyeluruh (Ro’an Akbar), menyiapkan mental untuk menghadapi jadwal ngaji yang berlipat-lipat, dan banyak lagi. Ketika ramadlan tiba, rasa haru sempat menyelimuti diriku. Home sick pastilah. Biasanya sahur buka selalu diladeni ibu, sekarang harus nyiapin semuanya sendiri. Kebetulan, aku tidak mengikuti sepuluh hari pertama, karena ada jatah bulanan. Jadi, aku hanya merasakan bahwa ramadlan waktu kita mengaji lebih banyak, itu saja. Barulah setelah hari ke sebelas. Aku merasakan betapa luar biasa ramadlan di pondok. Bayangkan saja, kita harus naik-turun dari lantai 4 ke lantai 1 kurang lebih 7-8 kali sehari. Mula...