Posts

Showing posts with the label pelajar

Bekal Kehiudupan Adalah Doa

Image
“ Bayarane tukang iso tah gawe nguliahno arek ?” perkataan itu sering kali menusuk telingaku hingga menghujam jantungku. Aku akui, aku memang anak seorang tukang batu dan penjual bakso kecil-kecilan. Hidup kami serba nge-pas. Tapi, meskipun demikian, orang tuaku memiliki kesadaran yang tinggi akan pendidikan anak semata wayangnya ini. Bagi orang tuaku, tidak penting mereka lulusan apa, asal anaknya bisa menjadi sarjana, bahkan profesor kalau bisa. Mereka juga memiliki pedoman bahwa “Sekolah itu tidak untuk mencari kerja, tapi untuk mencari ilmu. Kalau ingin mencari kerja, tidak usah sekolah. Carilah saja pekerjaan.” Hal itulah yang kemudian memacu semangatku untuk melanjutkan pendidikan. Kalau pun ingin bekerja, rasanya percuma. Aku lulusan aliyah yang tidak mengerti seluk-beluk dunia kerja.

Sosok Imut yang “Super”

Image
Teman saya yang akan saya ceritakan kali ini adalah Alvy Arimmatul Hamim. Di MAN Gondanglegi, semua pasti mengenal Alvy. Sosok ciwi ginuk-ginuk yang imutnya minta ampun. :D :D

Lembar-lembar Terakhir (Part 3)

Image
Aku pernah memiliki impian yang bisa dibilang ambisius dan tak tahu tujuannya apa. Apa itu? Menjadi pimred mandagi. bersama redaktur OASE periode 2013 - 2014 Yaps, percaya nggak percaya, Kalian harus percaya. Dulu, waktu MTs, aku juga wartawan sekolah. Awalnya hanya ikut-ikutan temen sekelas. Jurnalistik itu apa aku juga tidak tahu menahu. Pokoknya waktu itu di kelas banyak yang ikut, ya udah aku ikut. Tapi, siapa sangka justru yang ikut-ikutan ini jadi kecantol beneran. Di tengah perjalanan, banyak temenku yang mengundurkan diri, hingga akhirnya saat kelas delapan, aku terpilih jadi pimred (karena nggak ada lagi yang bisa dipilih :D)

Lembar-lembar Terakhir (Part 1)

Image
MAN Gondanglegi, 1 April 2016 Setiap sesuatu yang dimulai, pasti akan menemui akhir, dan aku rasa. Hari ini buku-buku ceritaku mulai memasuki halaman-halaman terakhir. Pagi ini, bersama teman-temanku kelas XII, dan beberapa guruku, kami mengenang kebersamaan kami selama bersekolah di MAN Gondanglegi. Menyuarakan kesan masing-masing, dan terisak mengenang perjalanan dan kebersamaan yang begitu panjang.

Payung malaikat

Setelah menyelesaikan ujian terakhir siang itu, aku bergegas menuju sebuah warung lesehan sederhana di gang kecil yang tak jauh dari kampus. Kupesan segelas jus melon dan kentang goreng. Warung itu masih sepi ketika aku datang, tak lama kemudian, seluruh meja dipenuhi oleh muda-mudi yang datang bersama pasangan atau rekan-rekannya. Hujan tiba-tiba mengguyur dengan derasnya. Aku yang tak membawa payung siang itu memutuskan untuk tetap di warung yang mulai padat pengunjung. Aku memesan lagi secangkir kopi susu panas. Sambil memandangi jalan aspal berlubang yang ditetesi hujan, aku juga menikmati alunan musik klasik yang diputar pemilik warung. Membuatku semakin kerasan ada di sini. Kilat menyambar sebuah pohon di depan warung dan mengagetkan banyak orang, termasuk aku yang menjerit menyaksikan langsung kejadian itu. Tepat saat itu, seorang lelaki paruh baya memasuki warung dengan tubuhnya yang basah kuyup. Ia sampai meloncat kaget karena teriakanku. Buru-buru aku minta maaf padany...

Sekolah Untuk Si Kembar

“ Andai pendidikan dan Ujian Nasional di negeri pertiwi ini tidak menyedot biaya selangit kepada rakyat, mungkin akan banyak anak-anak desa yang senasib denganku yang menjadi pemuda intelek. Tapi itu hanya andai, andai negeri ini mendengar, andai negeri ini tahu, seberapa ia tertinggal dari para tetangganya. Andai negeri ini melihat, betapa banyak bocah harapan bangsa yang belajar di pinggiran kali karena tak sanggup membayar administrasi.” dalam wisudah yang penuh haru dan isak tangis itu, adik bungsu Sholeh membacakan tulisan terakhir kakaknya. Betapa sang kakak peduli terhadap pendidikan. Betapa sang kakak ingin memiliki ijazah SMP. ***  “Nak, sudah pulang? Laku berapa gorengannya?” ibu menyambut kedatangan Sholeh diambang pintu. Diciumnya tangan ibu sambil memberikan uang hasil jualannya. “Maaf, Bu. Sholeh ndak bisa keliling jauh. Jadinya, gorengan kita Cuma laku sedikit.” Tuturnya lembut. Ibu hanya tersenyum sebari mengelus lembut kepala putra sulungnya. “Ayo sarapan...