Posts

Showing posts with the label majalah sekolah

Lembar-lembar Terakhir (Part Terakhir)

Image
7 Mei 2016 Pengumuman Kelulusan! Hari itu aku sama Nana bener-bener terkejut ketika tahu temen-temen pakai rok seragam warna putih. Kita udah PD aja gitu datang pakai rok bebas, untungnya warnanya sama-sama abu-abu. Kok bisa salah kostum? Kata temen-temen itu pemberitahuannya dadakan, lewat pesan broadcast BBM, sialnya kita sama-sama off BBM. Nggak ada yang sms juga. Sempet worried sih, tapi, yaudahlah. Pikirku, nggak mungkin juga disuruh pulang. Kita bener-bener nggak tahu. Bapak kesiswaan yang baik hati dan penyayang tidak mungkin tega marahin kita yang masih imut-imut ini kan? Hehe :D pokoknya pagi itu sudah cukup bikin mood kita hancur. Jadi, untuk pembelajaran, lain kali kalau sebar info lewat sms juga ya, Kasihan temen-temen Kalian yang nggak on di sosmed. Toleransi berteknologi ya! :D Bibi dan Nana,, Kita nggak salah kostum kok pas wisudah :D Siang hari, pengumuman pun dibagikan. Dag-dig-dug banget lah. Apalagi sebelum amplop dibagikan Bu Muyas sudah bilang kalau nila...

Lembar-lembar Terakhir (Part 3)

Image
Aku pernah memiliki impian yang bisa dibilang ambisius dan tak tahu tujuannya apa. Apa itu? Menjadi pimred mandagi. bersama redaktur OASE periode 2013 - 2014 Yaps, percaya nggak percaya, Kalian harus percaya. Dulu, waktu MTs, aku juga wartawan sekolah. Awalnya hanya ikut-ikutan temen sekelas. Jurnalistik itu apa aku juga tidak tahu menahu. Pokoknya waktu itu di kelas banyak yang ikut, ya udah aku ikut. Tapi, siapa sangka justru yang ikut-ikutan ini jadi kecantol beneran. Di tengah perjalanan, banyak temenku yang mengundurkan diri, hingga akhirnya saat kelas delapan, aku terpilih jadi pimred (karena nggak ada lagi yang bisa dipilih :D)

Ma'had Aku Padamu !

Keheningan malam terasa menggugah kalbu. Tersirat dalam benak ini untuk mencari kebenaran tentang adanya pencipta dari semua ini. Ingin rasanya ku menggali ilmu lebih dalam untukku semakin dekat dengan-Nya. Terlihat olehku para santri di pesantren sebelah rumah berlalu lalang pulang dari masjid untuk mengaji. Ingin rasanya ku seperti mereka, menuntut ilmu tanpa dampingan dari kedua orang tuan. Tanpa mengenal waktu dan lelah. “Mama, aku ingin mengaji.” Ungkapku kepada mama. “Alhamdulillah… kalau gitu, ayo sekarang kita ke ruang shalat untuk mengaji!” ajak mama. “Aku nggak mau, Ma. Aku ingin mengaji di pesantren.” “Kalau begitu besok mama akan daftarkan Kamu di Pesantrennya Kyai Halqi. Pesantren di sebelah rumah kita itu!” “Nggak mau. Aku tidak mau jika harus mengaji di pesantren sebelah rumah itu. Itu bukan pesantren, Mama. Itu asrama. Anak yang tinggal di pesantren itu sifatnya tidak seperti anak-anak yang mengaji di pesantrennya Kyai Halqi. Masak iya, anak pesantren b...