Posts

Showing posts with the label cerpen

Mas Huda; CINTA 115 SURAT (highlight)

Image
Tak ada yang menyangka bahwa perjalanan mengumpukan 114 surat adalah bagian paling berwarna dalam hidupku. Momen demi momen yang aku lewati bukan hanya sekedar tawa, tapi juga tangis dan cinta. Apa yang paling suka diperbincangkan orang di dunia ini? Cinta? Maka aku akan menceritakan sedikit tentang cinta yang datang sebagai penguji, dan cinta yang sebenar-benarnya cinta yang harus dijaga.

Dosa Tanpa Jeda #1

Image
Pixabay “kalau abah tidak mengizinkan saya jadi pelacur, baik! Arini akan pergi dari rumah!” “Arini!!!” bentak abah. “Silahkan keluar, dan jangan cari abah hingga di surga!!!” sambil menunjuk pintu Arini berlari keluar, ia berhenti sejenak di depan pintu, menoleh kembali wajah abah yang memerah memendam amarah, dan umi yang menangis tersed-sedu di samping suaminya. Arini melihat lantai marmer itu sekali lagi, menamatkan pandangannya pada dinding-dinding rumahnya yang hangat, menikmati aroma masakan umi, menatap kenangan masa kecilnya yang berputar di rumah ini. Selangkah lagi dia akan keluar dari rumahnya sendiri, dan tak akan mungkin pernah kembali. Sedang di luar pintu, ratusan santrinya membungkam mulut mereka, ada yang sebagian menangis, acuh, ada yang berbisik menghina. Mereka semua tabungan surganya abah, kepergiannya tak akan menimbulkan deficit ganjaran abah sedikitpun. Tekadnya bulat, tanpa menghadap ke belakang, sambil menutup mata, ia tarik jilbabnya hingga te...

Nurul Furqon Dalam Bingkai Mataku

Image
Banyak kejadian dramatsi akhir-akhir ini membuatku ingin menuliskan banyak hal. Well, tapi bukan itu yang hendak aku tulis di sini. Sedikit aku akan bercerita tentang rumah kedua ku yang tersayang. Nurul furqon.

Teman Sosmed = Orang Asing ???

Image
7 HARI TANTANGAN MENULIS - DAY 4 Google Berbicara soal teman di media sosial, aku jadi teringat kutipan dalam kumcer karangan Farida Susanti “Tidak ada orang asing di dunia ini,” kalimat itulah yang akhirnya mengantarkanku pada pertemanan dengannya. Orang asing yang membuktikan bahwa kalimat itu benar adanya.

Ramadlan ala Pondok'an VS Rumahan

Image
Ramadlan tahun ini (1438) H terasa berbeda bagiku, of course. Ini pertama kalinya menghabiskan ramadlan di tanah rantau. Menyandang status santri dan buka sahur bersama setiap hari. Euforia menyambut ramadlan sangat terasa ketika berada di pondok. Segala sesuatu kita persiapkan jauh-jauh hari. Mulai dari membiasakan diri bangun shalat malam, membersihkan pondok secara menyeluruh (Ro’an Akbar), menyiapkan mental untuk menghadapi jadwal ngaji yang berlipat-lipat, dan banyak lagi. Ketika ramadlan tiba, rasa haru sempat menyelimuti diriku. Home sick pastilah. Biasanya sahur buka selalu diladeni ibu, sekarang harus nyiapin semuanya sendiri. Kebetulan, aku tidak mengikuti sepuluh hari pertama, karena ada jatah bulanan. Jadi, aku hanya merasakan bahwa ramadlan waktu kita mengaji lebih banyak, itu saja. Barulah setelah hari ke sebelas. Aku merasakan betapa luar biasa ramadlan di pondok. Bayangkan saja, kita harus naik-turun dari lantai 4 ke lantai 1 kurang lebih 7-8 kali sehari. Mula...

Ketika Ibuku Penghafal al-Quran sedangkan Aku..

Image
Kisah ini based on true story , pengalaman saya sendiri yang terbit dalam antologi kisah inspiratif penghafal Alquran berjudul Kado Terindah Untuk Abah, terbit: April 2017

Kiamat dan Surga Kavlingan

Image
“Kakak, kiamat itu apa?” tanya adikku pada suatu ketika. Aku tersenyum sebari memandang wajahnya yang lugu. “Menurut Kamu apa, Dik?” jawabku menimpalinya pertanyaan. Dia menggeleng. “Kata ustadzku, kiamat itu kalau sudah ada peperangan di dunia ini. Kalau sudah ada pembela orang-orang muslim dari penganut agama non islam. Kalau itu sudah terjadi, berarti kiamat sudah dekat. Sekarang itu sudah terjadi, Kak? Di Negara barat sudah ada ancaman akan ada orang-orang Kristen yang membela muslim amerika. Berarti kiatam sudah dekat ya, Kak?” aku memeluknya sebari melebarkan senyum haru. Dia masih kecil, bahkan terlalu kecil untuk mengetahui isu-isu politik di luar sana.

Sajakku yang Hilang

Image
Kemana hialngya sajak-sajak itu? Sudah kucari di mana saja tak kutemukan. Sudah kutelusuri jalanan panjang namun tak jua kuketahui keberadaannya. Kemana hilangnya sajak-sajak itu? Telah kukumpulkan sajak-sajak cinta itu sejak puluhan tahun lalu. ketika aku masih mengerti rasanya jatuh cinta. Ketika aku masih merasakan nikmatnya rindu. Ketika aku masih mendengar bising rayuan setan untuk menyentuh dirimu. Sajak yang aku tulis di setiap malam-malam panjang sebari meneguk segelas kopi yang selalu ku sukai aromanya. Di bawah sinar lampu yang kuredupkan, dan headset yang terpasang di telinga mengalunkan nada-nada sendu menghidupkan kerinduan yang menggebu. Di sanalah sajak-sajak itu terlahir. Dari embrio bernama cinta yang aku sendiri tak tahu siapa ayah dan ibunya.

Surga: Lurus Belok Kanan

Image
Gambar: Google “Kita hidup di neraka terus capai tahu. Apa Kamu nggak ingin ke surga?” “Memangnya Kamu tau jalan ke surga, Nik?” yang ditanya menggeleng. “No, Kamu harus cari tahu jalan ke surga. Secepatnya. Di neraka ini nggak enak tahu. Panas, gersang, tak ada makanan enak. Nggak ada tempat hiburan. Konon katanya, No di surga itu makanannya enak-enak. Banyak bidadari cantik, dan Kamu bisa melihat seluruh dunia dari sana.” Nodi diam. Mereka sama-sama termenun dan berfikir bagamana caranya ke surga. “Tapi, bukannya surga itu hanya fiktif, Nik?”

At-takrir Chashola Takhsil ~ Pengulangan Membuahkan Hasil

Image
Setiap orang memiliki pilihan sendiri, namun, belum tentu pilihannya itu menjadi kepastian yang diberikan oleh Tuhan. Begitulah kiranya gambaran dari kisah teman saya yang yang satu ini. Yukha Afina Firdausiyah, panggilan akrabnya Yukha atau sebut saja dia Yayuk. Pertama kali mengenalnya ketika kelas X dan kebetulan kita satu bangku. Mulanya, gadis canti asal Turen ini berniat melanjutkan pendidikan SMA nya di Al Munawariyah, yayasan tempat dia sekolah SMP dahulu. Namun, ayahnya justru mendaftarkannya di MAN Gondanglegi. Dia bilang, tidak tahu menahu urusan pendaftaran. “Aku mah nurut aja,” begitu katanya. Begitu masuk di MAN, sama halnya dengan pengalamanku dahulu, dia juga terkejut ditempatkan di XH. The surprised thing yang nggak pernah kita duga sebelumnya.

Syndrom Maba

Image
Hai Readers, now I want to tell you about my new experience in university ( http://www.um.ac.id/ ) for last five days. Buat Kalian yang sudah jadi sarjana, atau sedang menjadi mahasiswa aktif (bukan maba), pasti juga mengalami hal-hal yang aku dan teman-teman maba alami selama beberapa hari terakhir ini.

Almamater baru (Edisi Revisi)

Image
Apa kabar Dunia? Apa Kau masih baik-baik saja hari ini? Lebih baik dari kemarin atau justru memburuk? MABA UM 2016 S1 Bahasa dan Sastra Indonesia PKKMB hari ke-1 Pagi ini tidak ada hal terindah yang bisa ku lihat selain senyum indah di wajah bapakku. Aku sudah hijrah ke pondok pesantren di Kota Malang sejak akhir Juli lalu. karena aku harus masuk PKKMB pukul 6.30, dengan senang hati bapak rela menjemputku dari pondok dan mengantarku ke kampus. Awalnya aku berudsha menolak. Khawatir kalau beliau kelelahan PP setiap pagi Malang – Sidorejo. Tapi, mau bagaimana lagi, beliau memaksa. Aku pun mengiyakan.

Lembar-lembar Terakhir (Part Terakhir)

Image
7 Mei 2016 Pengumuman Kelulusan! Hari itu aku sama Nana bener-bener terkejut ketika tahu temen-temen pakai rok seragam warna putih. Kita udah PD aja gitu datang pakai rok bebas, untungnya warnanya sama-sama abu-abu. Kok bisa salah kostum? Kata temen-temen itu pemberitahuannya dadakan, lewat pesan broadcast BBM, sialnya kita sama-sama off BBM. Nggak ada yang sms juga. Sempet worried sih, tapi, yaudahlah. Pikirku, nggak mungkin juga disuruh pulang. Kita bener-bener nggak tahu. Bapak kesiswaan yang baik hati dan penyayang tidak mungkin tega marahin kita yang masih imut-imut ini kan? Hehe :D pokoknya pagi itu sudah cukup bikin mood kita hancur. Jadi, untuk pembelajaran, lain kali kalau sebar info lewat sms juga ya, Kasihan temen-temen Kalian yang nggak on di sosmed. Toleransi berteknologi ya! :D Bibi dan Nana,, Kita nggak salah kostum kok pas wisudah :D Siang hari, pengumuman pun dibagikan. Dag-dig-dug banget lah. Apalagi sebelum amplop dibagikan Bu Muyas sudah bilang kalau nila...

Lembar-lembar Terakhir (part 5)

Image
29 Agustus 2013 Hari itu aku ikutan acara perkenalan tim mading 3D. Tim mading 3D itu memang tim bongkar pasang. Bisa dibilang, terbentuknya itu atas dasar langsung ‘comot’dan kita action kalau pas ada lomba aja. Saat itu aku diajak sama Mas Fadhil. Atas dasar apa ya? I don’t know. Mungkin karena aku udah pernah juara mading 3D waktu MTs dulu. Kalau nggak gitu ya rekomendasi dari rekan-rekan :D what everlah.

Lembar-lembar Terakhir (Part 3)

Image
Aku pernah memiliki impian yang bisa dibilang ambisius dan tak tahu tujuannya apa. Apa itu? Menjadi pimred mandagi. bersama redaktur OASE periode 2013 - 2014 Yaps, percaya nggak percaya, Kalian harus percaya. Dulu, waktu MTs, aku juga wartawan sekolah. Awalnya hanya ikut-ikutan temen sekelas. Jurnalistik itu apa aku juga tidak tahu menahu. Pokoknya waktu itu di kelas banyak yang ikut, ya udah aku ikut. Tapi, siapa sangka justru yang ikut-ikutan ini jadi kecantol beneran. Di tengah perjalanan, banyak temenku yang mengundurkan diri, hingga akhirnya saat kelas delapan, aku terpilih jadi pimred (karena nggak ada lagi yang bisa dipilih :D)

Lembar-lembar Terakhir (Part 2)

Image
MAN GONDANGLEGI, Juli 2014 Siswa kelas X yang naik kelas XI berebut melihat papan pengumuman yang terpasang di mading sebelah UKS pagi itu. Begitu pula dengan diriku, saat itu aku berlari bersama Yukha untuk melihat berada di jurusan apa nama kita. Sesuai harapan, aku diterima di jurusan bahasa. Dari XH, hanya aku saja yang berada di sana. Teman-temanku yang lain ada di jurusan IPS, Agama, dan sebagian besar di IPA. Yukha, teman sebangkuku - yang mulai aku sayangi - masuk IPA 1, aku masih ingat betul betapa ekspresinya menggambarkan keraguan. Seperti sebuah ketakutan untuk memasuki jurusan barunya. Dia pernah bilang padaku bahwa dia berharap bisa masuk jurusan IPS, meskipun di pilihan pertamanya adalah IPA. But , takdir berkata lain, dia harus menjalani hari-hari berikutnya di kelas IPA 1. Hari itu juga, kita berpelukan menangis mengucapkan kata perpisahan, dan saling mendoakan semoga kita nyaman berada di kelas baru kita. Selamat tinggal XH, selamat tinggal teman-teman, selamat...

Lembar-lembar Terakhir (Part 1)

Image
MAN Gondanglegi, 1 April 2016 Setiap sesuatu yang dimulai, pasti akan menemui akhir, dan aku rasa. Hari ini buku-buku ceritaku mulai memasuki halaman-halaman terakhir. Pagi ini, bersama teman-temanku kelas XII, dan beberapa guruku, kami mengenang kebersamaan kami selama bersekolah di MAN Gondanglegi. Menyuarakan kesan masing-masing, dan terisak mengenang perjalanan dan kebersamaan yang begitu panjang.

Alinkah Alea?

“Alin tunggu!” Mey berlari tergopoh menyusulku. “Aku bareng pulang ya!” ucapnya ketika sampai di sampingku. Aku mengangguk dan terus berjalan. “Eh, Lin. Aku mau curhat nih ke kamu.” kata Mey dengan wajah kusut. “Curhat apa?” “Ferdi punya seret admirer !” langkahku langsung terhenti. Permen yang kumakan terasa berhenti di tekakku. “Kenapa berhenti?” tanya Mey. “Tidak apa-apa. Ayo cepetan pulang, keburu hujan nih!” ajakku mengalihkan pembicaraan. “Pokoknya aku penasaran sama cewek yang naksir Ferdi. Semua orang di kampus kan udah tahu kalau Ferdi itu pacar aku. Berani banget dia main sambar begitu saja.” “Emang Kalian sudah pacaran?” “Ya… Ya… belum. Tapi, kan kita udah punya komitmen. Tinggal tunggu waktunya dia nembak aku.” Mey terus mengomel sesampainya di kos. Kupingku sampai dibuat panas olehnya. Sudah dua jam yang lalu dia memulai cerita ini, dan belum selesai sampai sekarang. “Udahlah, Mey. Yang penting Ferdinya nggak kepincut sama tuh cewek kan? Ngapain diributi...

Kebenaran Terabaikan

Hujan sudah mulai reda. Hanya tinggal rintik-tintik kecil yang kasat mata. Setengah jam aku bermain di bawah hujan dengan gadis cilik itu. “Kakak, siapa nama Kakak?” Tanya gadis kecil itu. Aku tersenyum, lalu berjongkok menyamakan tinggiku dengannya. “Aku Bila.” “Kakak wartawan ya?” tanyanya penuh selidik. “Kok kamu tahu? Iya, kakak wartawan. Kenapa? Kamu juga ingin jadi wartawan?” “Iya. Aku ingin jadi wartawan. Karena kalau aku jadi wartawan, aku bisa menyampaikan kebaikan kepada orang lain. Aku bisa menyiarkan kabar dari seluruh dunia. Aku bisa menolong ornag lain yang perlu pertolongan.” Jelasnya lugu. Aku tersenyum, dia belum tahu bahwa menjadi wartawan tak semudah yang ia pikirkan. Gadis itu lalu meninggalkanku dan masuk ke rumahnya yang sederhana. *** Di sebuah gedung berlantai dua, seorang wanita tengah sibuk menghubungi seseorang. Berkali-kali ia memanggil tapi tak ada jawaban. Bahkan, sekarang nomor yang ia tuju tidak aktif. “Kirimi dia pesan untuk menemui say...

Pasukan Ratu Kidul yang Mati Diracuni

Sebenarnya sudah lama kudengar tahayul tentang penunggu-penunggu air itu, dan aku sudah sering menceritakannya pula pada bapak. Tapi, aku malah diketawainya sambil berlalu. bapak bilang, tahayul hanya berlaku bagi orang-orang yang memercayainya, dan dia tidak. Makanya dia santai saja berbuat kejahatan di laut tanpa harus takut dikutuk oleh makhluk halus itu. “Bapak sepagi ini mau mencari ikan?” tanyaku heran melihat bapak sudah menyiapkan jala dan perlengkapan mencari ikan. Bapak diam saja, nelayan yang satu itu memang aneh. Nelayan pada umumnya mencari ikan pada malam hari, dan pulang pagi hari. Mereka memanfaatkan angin darat dan angin laut dengan baik. Berbeda dengan ayah yang melawan arah angin. Tak wajar! “Sudahlah, Kau terus menanyaiku setiap pagi, seolah-olah baru kenal aku saja.” Aku hanya diam dan langsung berlalu meninggalkannya. Tujuh belas tahun aku menjadi anak garam. Lahir dizaman nelayan masih menggunakan perahu gethek, tumbuh dizaman orang-orang sudah mengena...