Posts

Showing posts with the label cerita santri

Aku Naina, bukan Robiah

Image
“Jangan-jangan kalau kamu dapat istri hafidzah dia ngaji terus, nggak gelem tandang gawe .” Perkataan itu menampar wajah Naina. “Ibumu bilang begitu?” lelaki di depannya mengangguk.

Mas Huda; CINTA 115 SURAT (highlight)

Image
Tak ada yang menyangka bahwa perjalanan mengumpukan 114 surat adalah bagian paling berwarna dalam hidupku. Momen demi momen yang aku lewati bukan hanya sekedar tawa, tapi juga tangis dan cinta. Apa yang paling suka diperbincangkan orang di dunia ini? Cinta? Maka aku akan menceritakan sedikit tentang cinta yang datang sebagai penguji, dan cinta yang sebenar-benarnya cinta yang harus dijaga.

Nurul Furqon Dalam Bingkai Mataku

Image
Banyak kejadian dramatsi akhir-akhir ini membuatku ingin menuliskan banyak hal. Well, tapi bukan itu yang hendak aku tulis di sini. Sedikit aku akan bercerita tentang rumah kedua ku yang tersayang. Nurul furqon.

Ramadlan ala Pondok'an VS Rumahan

Image
Ramadlan tahun ini (1438) H terasa berbeda bagiku, of course. Ini pertama kalinya menghabiskan ramadlan di tanah rantau. Menyandang status santri dan buka sahur bersama setiap hari. Euforia menyambut ramadlan sangat terasa ketika berada di pondok. Segala sesuatu kita persiapkan jauh-jauh hari. Mulai dari membiasakan diri bangun shalat malam, membersihkan pondok secara menyeluruh (Ro’an Akbar), menyiapkan mental untuk menghadapi jadwal ngaji yang berlipat-lipat, dan banyak lagi. Ketika ramadlan tiba, rasa haru sempat menyelimuti diriku. Home sick pastilah. Biasanya sahur buka selalu diladeni ibu, sekarang harus nyiapin semuanya sendiri. Kebetulan, aku tidak mengikuti sepuluh hari pertama, karena ada jatah bulanan. Jadi, aku hanya merasakan bahwa ramadlan waktu kita mengaji lebih banyak, itu saja. Barulah setelah hari ke sebelas. Aku merasakan betapa luar biasa ramadlan di pondok. Bayangkan saja, kita harus naik-turun dari lantai 4 ke lantai 1 kurang lebih 7-8 kali sehari. Mula...

Kekuatan Tekad Seorang Abah

Image
Bagi sebagian orang, hanya mengenyam pendidikan hingga bangku SMP akan menjadikan dirinya merasa kecil dan beranggapan akan memiliki masa depan yang gelap, penuh kesusahan dalam kemiskinan. Namun tidak halnya dengan KH. Muhammad Chusaini. Lelaki yang akrab disapa Abah Chusaini justru menuai kebrhasilan dalam hidupnya sekalipun hanya lulus SMP. Terlahir sebagai salah satu putra dari dua belas bersaudara menjadikan dirinya mengalami kekurangan dari segi ekonomi. Setelah lulus SMP NU Malang, beliau membantu orang tuanya berjualan di pasar. Tetapi, kebosanan yang melanda dirinya akhirnya menjadi sebuah batu loncatan untuk memilih mondok dan melanjutkan hidup. “Saya pikir, kalau begini terus saya tidak akan bisa maju.” Saat berusia 19 tahun, suami dari Nyai Hj. Dewi Wardah ini memutuskan untuk nyantri di pondok pesantren Tahfidzil Quran Asy-Syadzili, Pakis. Usahanya dalam menghafal alquran tidaklah main-main sekalipun saat itu usia beliau sudah 19 tahun dan hanya bondo nekat ngapa...