Posts

Showing posts with the label cinta

It's Not a Fairy Tale

Aku tidak tahu mau memulai tulisan ini dari mana, tapi aku mau mengucapkan terima kasih untuk siapa saja yang telah menjadi tokoh dalam kisah asmaraku selama lima tahun terakhir. Bahkan aku tidak menyangka akan mengenal nama-nama itu. Tidak pernah kuminta mereka untuk hadir, pun tak pernah kuminta Tuhan menyemai benih di hatiku atas nama-nama itu. Semua terjadi begitu saja. Terkadang aku memaksa agar Tuhan menghentikanku pada satu nama itu dan cerita berakhir bahagia. Namun, ini bukan fairy tale yang selalu diakhiri dengan kalimat “ they live happily ever after ”. Setiap cerita selalu berakhir indah meskipun tak selalu bahagia. Iya, kan? Perihal kisah terakhir yang awalnya kukira akan berakhir bahagia  pun nyatanya juga berakhir dengan luka. Terkadang, soal hubungan dalam taraf yang serius kendalanya bukan hanya kita suka atau tidak suka. Prinsip, pandangan hidup, loyalitas, tanggung jawab, dan restu orang tua menjadi variabel-variabel penting yang tak bisa kita abaikan begitu s...

Mas Huda; CINTA 115 SURAT (highlight)

Image
Tak ada yang menyangka bahwa perjalanan mengumpukan 114 surat adalah bagian paling berwarna dalam hidupku. Momen demi momen yang aku lewati bukan hanya sekedar tawa, tapi juga tangis dan cinta. Apa yang paling suka diperbincangkan orang di dunia ini? Cinta? Maka aku akan menceritakan sedikit tentang cinta yang datang sebagai penguji, dan cinta yang sebenar-benarnya cinta yang harus dijaga.

Sepi, Jemput Aku Pulang

Image
Sepi, Jemput Aku Pulang dan sesungguhnya cinta, Tak ada yang lebih sepi dari kesepian itu sendiri Saat tak banyak orang yang mendengar suara rintihan kita Pada saat yang sama bumi enggan bersuara, angin enggan berdesir Sedang ragamu telah menjadi fosil Dan kenanganmu telah terurai menjadi setumpuk abu Tatkala aku termenung, Menyadari bahwa esensi kesetiaan hanyalah kesengajaan yang dibuat dengan keterpaksaan Bahwa janji tak selamanya harus ditetapi Karena hidup tak selamanya harus berjalan sesuai rencana Kau dimana? Jauh Lenguhku tak sampai pada telingamu Jangkaku tak sampai pada titikmu Sedang suaraku hanya samar terdengar dari atas bukit masa lalu yang lapuk Rusak tak terurus Ingin sekali lagi kumenggenggam tanganku Agar bukan hanya matamu yang kubayang Agar bukan hanya suaramu yang terngiang Agar kefanaan menisbikan dirinya  sendiri dan dapat kulihat nyata wujudmu gagah meenatap matahari Jemput aku pulang Kembalikan aku pada keniscayaanku Sebel...

Dari -aku-

Image
Aku menerima matamu sebagai kejutan dari Tuhan Jika tak sempat kunikmati mata itu berulang kali, Biar hanya bayangannya yang menjadi prasasti Bahwa antara aku dan kamu pernah sengaja dipertemukan Aku menerima matamu sebagai hadiah dari Tuhan Atas ganti mata orang lain yang tiap kali mengingatnya membuatku luka Jika hadiah itu hanya sekedar dititipkan Setidaknya biar matamu itu menjadi penghapus atas bayangan mata orang lain Dan menjadi isyarat Bahwa masih ada bahagia yang harus kunikmati di dunia ini Berawal dari sebuah candaan dan ketidaksengajaan aku mengetahui dirimu sejak lama Secara diam-diam aku hanya bisa melihat foto-foto yang itu-itu saja

Pesona Fahri 'Fedi Nuril' Dalam Film AAC 2

Image
Melongo aja masih mempesona lho... (Google) Mengapa sosok Fahri bisa menjadi begitu memikat dalam film AAC 2? Mungkin karena beberapa hal ini.

Dosa Tanpa Jeda #1

Image
Pixabay “kalau abah tidak mengizinkan saya jadi pelacur, baik! Arini akan pergi dari rumah!” “Arini!!!” bentak abah. “Silahkan keluar, dan jangan cari abah hingga di surga!!!” sambil menunjuk pintu Arini berlari keluar, ia berhenti sejenak di depan pintu, menoleh kembali wajah abah yang memerah memendam amarah, dan umi yang menangis tersed-sedu di samping suaminya. Arini melihat lantai marmer itu sekali lagi, menamatkan pandangannya pada dinding-dinding rumahnya yang hangat, menikmati aroma masakan umi, menatap kenangan masa kecilnya yang berputar di rumah ini. Selangkah lagi dia akan keluar dari rumahnya sendiri, dan tak akan mungkin pernah kembali. Sedang di luar pintu, ratusan santrinya membungkam mulut mereka, ada yang sebagian menangis, acuh, ada yang berbisik menghina. Mereka semua tabungan surganya abah, kepergiannya tak akan menimbulkan deficit ganjaran abah sedikitpun. Tekadnya bulat, tanpa menghadap ke belakang, sambil menutup mata, ia tarik jilbabnya hingga te...

Teman Sosmed = Orang Asing ???

Image
7 HARI TANTANGAN MENULIS - DAY 4 Google Berbicara soal teman di media sosial, aku jadi teringat kutipan dalam kumcer karangan Farida Susanti “Tidak ada orang asing di dunia ini,” kalimat itulah yang akhirnya mengantarkanku pada pertemanan dengannya. Orang asing yang membuktikan bahwa kalimat itu benar adanya.

Sosok Idamanku

Image
7 HARI TANTANGAN MENULIS - DAY-3 Source: Google Jika ditanya karakter seseorang seperti apa yang aku sukai. Pasti baka aku jawab, semua karakter orang itu unik dan membawa kesan sendiri-sendiri. tapi, baiklah akan aku jawab tiga diataranya.

Berpetak Umpat Mencintaimu

Image
Aku tergelak Saat suaramu menyembul ke permukaan Panahan matamu menembus titik kuning hatiku Tak ku goyangkan badan ini Tapi kaki ini terus bergetar Pertahananku runtuh Sayatan pisau tajam sekalipun Hanya bisa melukai kulit ariku Tak sampai pada akarnya yang menancap Tak akan berbekas hingga mulut tak lagi berucap Aku dan hatiku Berpetak umpat mencintaimu Kucing-kucingan setengah mati menatapmu Mempertarungkan tatapan Yang tak urung keseriusan Tidakkah kau lihat Ada lukisan cinta di mata ini Ada cairan rindu yang kujaga untuk tak sampai jatuh Dan ada warna kelabu di pupil ini Saat kau buatkan mendung untukku Hentikan sudah cinta ini Jika kau tak mau Bunuh saja rindu ini Jika kau tak tahan lagi Butakan saja mataku Jika melihatmu hanya akan menjadi benalu hidupku 1 November 2013

Ini Bukan Puisi, Bukan Pula Sajak Anak-anak

Image
Ini bukan puisi, bukan pula sajak anak-anak. Ini adalah barisan kalimat pelipur lara yang kucoba tuliskan untuk menghibur diri yang dilanda sepi Ini bukan puisi, bukan pula sajak anak-anak. Aku pernah terjangkit cinta, dan terjatuh dalam kubangan cinta yang kubuat sendiri Aku pernah merasa sepi di ujung pagi, Pernah tertawa di dalam luka, pernah bahagia di dalam duka Aku pernah menjadi putri yang dipuja, dipuji, Pun pernah dihina, merana Aku terbiasa berbunga-bunga sekalipun tak ada yang menyirami, Aku terbiasa layu ketika diam-diam lebah menyengatku dengan ganasnya, Aku pernah merasakan semua itu. Ini bukan puisi, bukan pula sajak anak-aanak, Aku pernah merasakan tangis yang tawar hingga nanar Aku pernah berendam dalam kerinduan hingga kedinginan Aku pernah mendekur di atas balkon kebimbangan dan keputusasaan Aku pernah, dan aku terbiasa Namun, entah kenapa kini semua terasa berat, Semua yang ku alami seakan berkali lipat bebannya Entah mengaapa ...

Surga: Lurus Belok Kanan

Image
Gambar: Google “Kita hidup di neraka terus capai tahu. Apa Kamu nggak ingin ke surga?” “Memangnya Kamu tau jalan ke surga, Nik?” yang ditanya menggeleng. “No, Kamu harus cari tahu jalan ke surga. Secepatnya. Di neraka ini nggak enak tahu. Panas, gersang, tak ada makanan enak. Nggak ada tempat hiburan. Konon katanya, No di surga itu makanannya enak-enak. Banyak bidadari cantik, dan Kamu bisa melihat seluruh dunia dari sana.” Nodi diam. Mereka sama-sama termenun dan berfikir bagamana caranya ke surga. “Tapi, bukannya surga itu hanya fiktif, Nik?”

Bagaimana Bisa Segila Ini Aku Mencintaimu?

Syair apa yang harus ku tulis Sedang mencintaimu membuatku lupa cara menulis Aku terlampau gila memandangimu Tergila-gila akan ketampananmu yang sederhana Pada kepandaianmu yang nampak biasa Pada kedewasaanmu yang mengalahkan usia Jelaskan bagaimana agar aku bisa lupa Sedang dalam doaku namamu sangat sering ku sebut Dalam mimpi, dirimu nyaris tak pernah udzur Jelaskan! Bagaimana bisa segila ini aku mencintaimu? Memoriku, mataku, telingaku Semua sasak akan bayangmu, senyummu, suaramu Senyum manismu yang sangat memikat Perkataanmu yang sarat makna Nada bicaramu yang semerdu alunan rindu Katakan! Bagaimana bisa segila ini aku mencintaimu? Coba terangkan padaku ketidakjelasan akan perasaanku Terima atau tidaknya dirimu aku tak peduli Aku akan terus mencintaimu Sampai kapanpun Aku yakin Dirimu tak akan bisa menjawab Bagaimana bisa segila ini aku mencintaimu?

Aku, Hujan, dan Dia

Image
Di depanku turun jutaan air yang jernih Membuat dingin di tubuhku Di sampingku, berjajar siswa yang sedang sibuk mengurusi kuliahnya Agak jauh di sana, seorang lelaki berkacamata berdiskusi dengan salah seorang dari mereka Itu Kamu Lelaki yang aku doakan siang malam Yang datang dalam mimpiku akhir-akhir ini Seseorang yang aku rindukan dalam diam Aku batin dalam sepi Aku pandang dalam bayang Lelaki yang istimewa di akhir masa sekolahku Aku dan dia menikmati hujan yang sama. Menikmati bunyi sahut-sahutan air yang jatuh, menyejukkan Meski bising, aku masih bisa mendengar suaranya Tawanya, yang semerdu rerintik hujan siang ini Masih bisa membau tubuhnya, yang seharum bau tanah basah terkena tetasan hujan Masih bisa mlirik senyumnya, saat dia tengah asyik mengabaikanku Aku menikmati hujan yang sama dengannya Bersama desir kebahagiaan yang tak terkirakan Bersama debar jantung yang beritme lebih cepat dari pada saat aku berlari menemuinya. Bers...

Payung malaikat

Setelah menyelesaikan ujian terakhir siang itu, aku bergegas menuju sebuah warung lesehan sederhana di gang kecil yang tak jauh dari kampus. Kupesan segelas jus melon dan kentang goreng. Warung itu masih sepi ketika aku datang, tak lama kemudian, seluruh meja dipenuhi oleh muda-mudi yang datang bersama pasangan atau rekan-rekannya. Hujan tiba-tiba mengguyur dengan derasnya. Aku yang tak membawa payung siang itu memutuskan untuk tetap di warung yang mulai padat pengunjung. Aku memesan lagi secangkir kopi susu panas. Sambil memandangi jalan aspal berlubang yang ditetesi hujan, aku juga menikmati alunan musik klasik yang diputar pemilik warung. Membuatku semakin kerasan ada di sini. Kilat menyambar sebuah pohon di depan warung dan mengagetkan banyak orang, termasuk aku yang menjerit menyaksikan langsung kejadian itu. Tepat saat itu, seorang lelaki paruh baya memasuki warung dengan tubuhnya yang basah kuyup. Ia sampai meloncat kaget karena teriakanku. Buru-buru aku minta maaf padany...

Rebahan Mukena Merah

Berujung sajadah diatas gelisah Berbalut noda berakhir neraka Berdawai dusta Terhina nista Ku katupkan pelupuk mata hati Agar tiada lagi syahwat menjerat Diatas kesucian yang tersirat Kucoba menghindar namun takut memudar Kalah akan kuatnya hasrat syetan Untuk mengelabuhi diri ini dalam wujudmu Senjaku menyapa dengan kesalahan itu Kesalahan terbesar akan kebohongan Yang membuatku terlihat tak berdaya Tak dapat terpungkiri jikalau ku ingin melepas semua ini Jerat hati yang menyakiti Sendi-sendi keimanan semakin rapuh Hanya karena ku menyayangimu Dan tak bisa untuk mengendalikan hasratku untuk tak melihatmu Dibalik rebahan mukena ini Terlihat segores tinta warna merah di atas kertas itu Berlumur penuh dosa Hanya karena untaian kata yang menggoyah jiwa Dan tak dapat mengelak akan nafsu Yang dibisikkan oleh syetan Pantaskah ku bermukena jika ku melihatmu dengan tatapan dosa? Pantaskah ku duduk di atas sajadah  jika ku membaca untaian h...