Posts

William Harvey Biography

Contoh text biography William Harvey was born on 1st April 1578 in Folkstone, England. Harvey’s father was Thomas Harvey. He was a servant in Mayor Officer on 1600. Harvey’s wife name was Elizabeth Browne, a daughter from Mr. Lancelot Browne. Harvey and Elizabeth didn’t have a child. His first education in Folkstone, after that he went to Lord School (Canterbury). Then, he studied in Cambridge University and in 1600 he studied in Padua University. He graduated from Padua in 1602 and then, he went back to England for opening practice of medicine. At the same year, he also became a master of physician in St. Bartholomew Hospital, London. First of all, Harvey arranged opinion about blood circulation with made simple aritmatic calculation. He approximated that, total blood who pumped by every pulse was about 2 ons. So, if pulse 72 times every minute, so that total was about 540 pons every hour, therefore Harvey’s theoretically said, “The same blood regulatively rotate pass by heart....

Memupuk Pengetahuan Masyarakat Tentang Lahirnya Sastra Melayu Lama

Contoh Resensi karangan non fiksi Judul Buku      : Peristiwa Sastra Malayu Lama Penyusun         : Drs. H. Soetarno Penerbit           : PT. Widya Duta Grafika Tahun Terbit    : 2003 Tebal               : 104 Halaman                                         ISBN               : 979517047 – 3 Sangat disayangkan ketika kebanyakan orang di negeri ini tidak mengetahui perkembangan kesusastraan Indonesia. Faktanya, tidak hanya orang awam, tak sedikit pula akademisi yang tidak mengetahuinya. Sejatinya, kelahiran sastra yang ada di Indone...

Kebenaran Terabaikan

Hujan sudah mulai reda. Hanya tinggal rintik-tintik kecil yang kasat mata. Setengah jam aku bermain di bawah hujan dengan gadis cilik itu. “Kakak, siapa nama Kakak?” Tanya gadis kecil itu. Aku tersenyum, lalu berjongkok menyamakan tinggiku dengannya. “Aku Bila.” “Kakak wartawan ya?” tanyanya penuh selidik. “Kok kamu tahu? Iya, kakak wartawan. Kenapa? Kamu juga ingin jadi wartawan?” “Iya. Aku ingin jadi wartawan. Karena kalau aku jadi wartawan, aku bisa menyampaikan kebaikan kepada orang lain. Aku bisa menyiarkan kabar dari seluruh dunia. Aku bisa menolong ornag lain yang perlu pertolongan.” Jelasnya lugu. Aku tersenyum, dia belum tahu bahwa menjadi wartawan tak semudah yang ia pikirkan. Gadis itu lalu meninggalkanku dan masuk ke rumahnya yang sederhana. *** Di sebuah gedung berlantai dua, seorang wanita tengah sibuk menghubungi seseorang. Berkali-kali ia memanggil tapi tak ada jawaban. Bahkan, sekarang nomor yang ia tuju tidak aktif. “Kirimi dia pesan untuk menemui say...

Pasukan Ratu Kidul yang Mati Diracuni

Sebenarnya sudah lama kudengar tahayul tentang penunggu-penunggu air itu, dan aku sudah sering menceritakannya pula pada bapak. Tapi, aku malah diketawainya sambil berlalu. bapak bilang, tahayul hanya berlaku bagi orang-orang yang memercayainya, dan dia tidak. Makanya dia santai saja berbuat kejahatan di laut tanpa harus takut dikutuk oleh makhluk halus itu. “Bapak sepagi ini mau mencari ikan?” tanyaku heran melihat bapak sudah menyiapkan jala dan perlengkapan mencari ikan. Bapak diam saja, nelayan yang satu itu memang aneh. Nelayan pada umumnya mencari ikan pada malam hari, dan pulang pagi hari. Mereka memanfaatkan angin darat dan angin laut dengan baik. Berbeda dengan ayah yang melawan arah angin. Tak wajar! “Sudahlah, Kau terus menanyaiku setiap pagi, seolah-olah baru kenal aku saja.” Aku hanya diam dan langsung berlalu meninggalkannya. Tujuh belas tahun aku menjadi anak garam. Lahir dizaman nelayan masih menggunakan perahu gethek, tumbuh dizaman orang-orang sudah mengena...

Payung malaikat

Setelah menyelesaikan ujian terakhir siang itu, aku bergegas menuju sebuah warung lesehan sederhana di gang kecil yang tak jauh dari kampus. Kupesan segelas jus melon dan kentang goreng. Warung itu masih sepi ketika aku datang, tak lama kemudian, seluruh meja dipenuhi oleh muda-mudi yang datang bersama pasangan atau rekan-rekannya. Hujan tiba-tiba mengguyur dengan derasnya. Aku yang tak membawa payung siang itu memutuskan untuk tetap di warung yang mulai padat pengunjung. Aku memesan lagi secangkir kopi susu panas. Sambil memandangi jalan aspal berlubang yang ditetesi hujan, aku juga menikmati alunan musik klasik yang diputar pemilik warung. Membuatku semakin kerasan ada di sini. Kilat menyambar sebuah pohon di depan warung dan mengagetkan banyak orang, termasuk aku yang menjerit menyaksikan langsung kejadian itu. Tepat saat itu, seorang lelaki paruh baya memasuki warung dengan tubuhnya yang basah kuyup. Ia sampai meloncat kaget karena teriakanku. Buru-buru aku minta maaf padany...

Rebahan Mukena Merah

Berujung sajadah diatas gelisah Berbalut noda berakhir neraka Berdawai dusta Terhina nista Ku katupkan pelupuk mata hati Agar tiada lagi syahwat menjerat Diatas kesucian yang tersirat Kucoba menghindar namun takut memudar Kalah akan kuatnya hasrat syetan Untuk mengelabuhi diri ini dalam wujudmu Senjaku menyapa dengan kesalahan itu Kesalahan terbesar akan kebohongan Yang membuatku terlihat tak berdaya Tak dapat terpungkiri jikalau ku ingin melepas semua ini Jerat hati yang menyakiti Sendi-sendi keimanan semakin rapuh Hanya karena ku menyayangimu Dan tak bisa untuk mengendalikan hasratku untuk tak melihatmu Dibalik rebahan mukena ini Terlihat segores tinta warna merah di atas kertas itu Berlumur penuh dosa Hanya karena untaian kata yang menggoyah jiwa Dan tak dapat mengelak akan nafsu Yang dibisikkan oleh syetan Pantaskah ku bermukena jika ku melihatmu dengan tatapan dosa? Pantaskah ku duduk di atas sajadah  jika ku membaca untaian h...

Sekolah Untuk Si Kembar

“ Andai pendidikan dan Ujian Nasional di negeri pertiwi ini tidak menyedot biaya selangit kepada rakyat, mungkin akan banyak anak-anak desa yang senasib denganku yang menjadi pemuda intelek. Tapi itu hanya andai, andai negeri ini mendengar, andai negeri ini tahu, seberapa ia tertinggal dari para tetangganya. Andai negeri ini melihat, betapa banyak bocah harapan bangsa yang belajar di pinggiran kali karena tak sanggup membayar administrasi.” dalam wisudah yang penuh haru dan isak tangis itu, adik bungsu Sholeh membacakan tulisan terakhir kakaknya. Betapa sang kakak peduli terhadap pendidikan. Betapa sang kakak ingin memiliki ijazah SMP. ***  “Nak, sudah pulang? Laku berapa gorengannya?” ibu menyambut kedatangan Sholeh diambang pintu. Diciumnya tangan ibu sambil memberikan uang hasil jualannya. “Maaf, Bu. Sholeh ndak bisa keliling jauh. Jadinya, gorengan kita Cuma laku sedikit.” Tuturnya lembut. Ibu hanya tersenyum sebari mengelus lembut kepala putra sulungnya. “Ayo sarapan...