Posts

Berkias Tanpa Majas

Perkakas kuas berkias Ku utarakan rasa didalam dada Lewat satu demi satu lengkungan lengan Ku goreskan tinta tak berupa Di atas kertas tepian peringas Inilah caraku Caraku menguakkan Segala ungkapan batin dalam nestapa derita Dia tahu segalanya Segala tangis tawa ditengah kandasnya rasa dalam jiwa Ku katupkan pelupuk mata ini Ku buka pintu hati yang masih tertutup Ku genggam benda kecil berujung benang bulu Sekelebat bayang melintasi ruang memoriku Setitik aroma jiwa menggugah mata batinku Menuntun jemari melengkungi kertas putih tak bernoda Hingga ku ciptakan satu keabadian rasa Membuat birahi membaca hati Mengikis rasa dalam pandangan yang nyata Begitu bersahaja ku tuntun tinta pelangiku Begitu ikhlas ku lepas tangan untuk menghias Bersama lembutnya gerak sapuan kuas Yang menyapu setiap celah putihnya kertas Inilah aku Berkias tanpa majas Tak harus bermajas Untuk bisa berparas Berparas cantik indah menawan Memberi pelangi b...

Seperti Bukan Mimpi

Ini seperti bukan mimpi, tapi ini mimpi, bukan mimpi dalam tidur, ini mimpi dalam bangunku. Kejadian yang sungguh tak ingin ku bahas lagi dalam masa indah setelah menerjang ribuan badai kehidupan. Tawa yang berhamburan dari mulutku, bak wujud kelegaan atas tangis yang dulu ku keluarkan hingga membentuk lautan beku di sudut hidupku. Dia yang aku suka baru saja menjadi milikku. Namun, semakin dia di dekatku, semakin kisah itu terlukis nyata dalam ketidak tenangan jiwa. Ingin rasanya ku buang saja di jamban. Andai semudah itu. Andai. Aku mencintainya sejak kita sama-sama belum lahir ke dunia ini. Aku pernah ingat bahwa rohku sering mengajak cintaku itu berkeliling surga. Mendiami tempat-tempat indah di sana. Bercanda dan menumpahkan kasih sayang di sana. Kelak, ketika aku telah terlahir di dunia dan memiliki raga, aku ingin mengatakan padanya. Bahwa aku mencintainya sejak aku di perantauan surga. Entah Tuhanku mengizinkan atau tidak. Aku tetap mencintainya. Suatu malam setelah ...

Lensa Milikku

Image
Ilustrasi (google) Menjadi wartawan sekolah adalah salah satu caraku bisa mencapai cita-citaku. Sekaligus, melebur kebosanan akan siklus pelajaran yang selalu rumit dan penuh tuntutan. Berlaga eksis dan sok penting dalam setiap event sekolah. Begitulah aku menyebutnya. Padahal, ada rasa bosan, capek, pegal yang kerap kali muncul ketika meliput berita. Apalagi, kalau deadline sudah tinggal menghitung hari sedang tugas belum semua selesai. Rasanya jungkir balik seperti diterpa angin topan. Kali ini adalah tugas liputanku yang ketiga. Tiba giliranku untuk memotret. Biasanya, Kak Marinka si redaktur pelaksana hanya memberiku tugas untuk wawancara. Suatu kehormatan besar bagiku bisa men- shoot setiap detail dari event besar di sekolah ini. Because , ada kunjungan dari SMAN Cempaka Putih. sekolah yang digembar-gemborkan dengan prestasinya yang sampai Asia-Pasifik itu. “Ambil dari angle-angle terbaik ya! Aku kasih reward kalau jepretanmu bagus!” sebagai senior, tentulah Kak M...